Oleh: dodoamaludin | 21 Mei 2008

Begini (Mungkin) Tip Agar Mampu Bertahan di Luar

Samuel Mulia – Kilas Parodi-Kompas Minggu 11 Mei 2008

1. Saya seringkali lupa bahwa, ketika hadir di dunia, kondisi susah dan senang, pahit dan manis, hujan dan kering kerontang ada dalam satu paket.

2. Saya seringkali tak mau menerima kalau kondisi paketnya seperti pada butir satu.

3. Saya mencoba sekarang hidup sejujur mungkin. Saya harus menerima keadaan saya. Dan saya harus berani dengan tegas kalau teman saya mengajak liburan numpak kapal mabur di kelas bisnis, sementara kondisi keuangan saya hanya bisa mendudukan saya di kelas ekonomi, ya…. Saya hanya mengatakan apa adanya. Jadi saya tak lagi mau mendendangkan kalimat klise setelah bepergian: back to reality. Kata back to menyatakan seolah saya datang dari dunia yang tidak nyata, kembali ke keadaan nyata. Jadi, seolah-olah acara bepergian itu hal yang mirip seperti seorang manusia tengah dalam pengaruh narkoba.

Dengan kejujuran, liburan saya bukan penipuan pada diri sendiri. Liburan saya adalah realitas, dengan perhitungan nyata. Sesudah liburan pun adalah realitas. Saya bukan kembali pada kenyataan. Itu yang membuat saya nyaman dalam kondisi apapun.

4. Saya jarang mau menempatkan Sang Khalik di tempat utama. Buktinya, saya menulis pada butir ke empat, tidak yang pertama, seperti sila pertama Pancasila. Jadi, negeri ini saja mengakui Tuhan patut ditempatkan pada urutan pertama. Dulu saya berfikir, sang khalik dikunjungisatu minggu sekali saja sudah cukup, di luar waktu itu saya menggunakan kekuatan saya sendiri. Setelah mengalami peristiwa sok tahu dan sok kuat, saya berfikir seharusnya saya menempatkan Dia yang pertama dan menjadikan Dia teman sekerja dan tidak memisahkan Dia dari aktivita saya setiap hari. Jadi, saya tak perlu narkoba ketika tak ada paduan suara, tak ada pengkhotbah yang menyemangati, ataupun tak ada ruang berpendingin.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori