Itulah singkatan dari masa depan suram. Masalah madesu itulah yang menggelitik sikap positif saya, sikap yang telah lama terpupuk dari cerama-ceramah kebijakan, buku-buku kehidupan dan kenyataan yang mungkin membuat diri tidak merasa tertantang. “Mas, aku takut tentang masa depan. Kok tiba-tiba saja perasaan itu datang. Kok semuanya sekarang menjadi begitu kacaunya.”
Waduh… Saya tak bisa menjawabnya, karena dalam keadaan berapi-api di selimuti sikap positif, pertanyaan itu malah seperti air di semprotkan petugas pemadam kebakaran di sebuah gedung yang di lalap api.
Saya membutuhkan waktu untuk merenungkan kembali apa benar demikian adanya. Apakah benar masa depan akan begitu kacaunya?. Sementara saya ini manusia yang tak pernah memikirkan masa depan. Saya hanya hidup sehari untuk sehari. Kejadian yang sehari ya dilakoni sehari itu juga. Mau rencana saya gagal kek, mau berhasil seperti yang saya harapkan kek, ya saya diam saja, saya jalani saja.
Minggu lalu saya bertemu dengan teman saya. Ia menanyakan apa rencana saya ke depan. Kemudian ia menjawab pertanyaannya sendiri. “O ya.. aku lupa kamu enggak pernah merencanakan masa depan ya?”
Maka sebagai orang yang tak “Punya” masa depan, mendapat pertanyaan bernada frustasi semacam itu, saya jadi kelabakan sendiri. Tentu saya bukan orang yang masa bodoh. Bahwa harga minyak naik, demo kenaikan hara BBM terjadi, gempa di tanah cina merenggut nyawa demikian banyaknya, peperangan terjadi, kita senang bermusuhan, menjatuhkan, senang merekayasa hidup orang lain, tak sukia melihat orang lain sukses, maunya memonopoli, hutan dirusak, korupsi merajalela, saya tidak buta tentang itu semua.
Setelah pertemuan di sebuah gedung di ibukota negara ini, dalam pertemuan dengan sebuah perusahaan untuk membahas produk baru yang akan digunakan oleh perusahaannya saya kembali ke tempat persemayaman untuk beristirahat alias tidur. Inilah enaknya kalau kerja hanya sebagai tenaga paruh waktu. Kerja sebentar, tidur lagi. Menulis sebentar meski kadang melanggar tenggat waktu, tidur lagi. Mungkin itu mengapa saya saya tak pernah merasa masa depan saya tidak begitu mengganggu. Lha wong kerjanya Cuma sebentar kerja, kemudian tidur lama. Ya…. Tentu imbalannya juga ya… sebentar juga. Sebentar naik, lebih sering turunnya.
Pada perjalanan pulang saya kembali merenungkan apa iya masa depan itu bakal suram?. Saya kembali terhenyak lagi oleh petanyaan rekan seperjalanan saya yang tiba-tiba bicara, “Wah…. sekarang susah, proyek ga ada yang bener, pendapatan makin sulit, BBM katanya naik, bener enggak mas,. Ngeri juga ya mas..
Saya benar-benar kelabakan. Pertanyaan teman saya sebelumnya belum terjawab, sekarang datang pertanyaan kedua yang langsung harus dijawab juga tanpa da waktu untuk merenungkannya. Karena mulut saya sering cepat bicara daripada otak saya untuk berfikir, saya jawab singkat saja, ya.. emang menakutkan.
Hari itu benar-benar seperti orang linglung. Saya hanya berfikir, sepertinya Sang Kuasa sedang membangunkan saya yang selama ini Cuma mikirnya kerja dan tidur saja. Dalam waktu sekian jam saya disemprot dua masukan semacam itu. Saya malah bertanya pada diri sendiri, mungkin saatnya saya berfikir tentang madesu itu.
Maka saya mempercepat masa perenungan itu. Masa depan suram. Masa depan buat saya adalah sebuah masa yang akan datang, jadi belum datang, baru akan disambut atau dijelang kedatangannya.untuk menyambut yang belum datang, umumnya saya harus mempersiapkan segala sesuatunya. Mau peduli atau acuh… ya.. akan datang juga.
Kalau saja dari dulu saya belajar untuk mengerti manusia lain, kalau saja dari dulu saya hidup dan berfikir benar, tidak mudah iri hati, mengetahui semua orang sama da benarnya ada juga salahnya, mungkin saya tidak perlu memusuhi orang lain dalam skala kecil, ataupun berperang melawan satu negara dalam skala besar.
Seandainya saya presiden adikuasa, mau mendapatkan keuntungan dengan mengambil lahan minyak negeri orang lain, sementara di negeri sendiri sebuah lahan minyak telah tersedia di hadapan saya, saya akan dengan senang hati melakukan tindakan memoroti negeri orang lain. Nanti, kalau orang lain tidak mau diporoti, saya sebagai presiden adikuasa menjadi marah karenanya dan melakukan tindakan konyol dengan merekayasa sejuta alasan. Orang lain marah diporoti, saya enggak suka. Seandainya saya tidak seegois itu mungkin saya bisa mengurangi kemarahan saya dan orang lain dan tak perlu sampai perang.
Sebelum saya tiba di tempat persemayaman saya, untuk tidur tentunya… saya mengambil kesimpulan, masa depan itu suram karena saya yang akan menyambut masa depan itu sekarang saja sudah suram. Bahkan kalau mau jujur, saya memang berencana menyuramkan masa depan dengan melakukan kesuraman mulai sekarang. Dan sayang seribu sayang, yang melakukan madesu itu ternyata saya. Saya yang jadi biang keroknya. Sedihnya, biang keroknya itu adalah manusia yang mengaku well educated, pandai dan bermartabak… eh.. bermartabat maksudnya.