“Kau yang pulang
Adalah kau yang mengerti kerinduanku
Namun,…
Bagaimanakah aku pulang
Aku telah menggulung kenangan akan ibu
Dan rumah masa lalu
Seperti menggulung geribik bekas menjemur padi tadi siang
Di sore hari,
Dalam kesenyapan dan kekelaman gudang belakang
Sebab…
Sungguh sedih menatap tubuh ringkih
Dan mata yang mengobarkan duka lara
Pohon-pohon cengkih yang dibakar
(telah silam kuhirup harum cengkih
yang dipetik dan disiram keringat letih)
Sebab…
Nasib sekesat getah manggis muda
Yang kutemukan pada tirus wajah bapa
(pipi hitamnya secekung daun kedongdong
Pandangnya kehilangan keriangan daun-daun kestuba)
Setelah sirna kebun dan lumpur sawah
Dan semangat kerja menetesi setiap bulir gabah
Adikku menapi hari-hari pilu
Seolah memisah beras dari pasir dan batu
(aku gamang
Tak mengerti lagi arti pulang)
Mati
Jika aku mati
Apakah kau
Akan mengawetkanku
Dalam puisi